budhisetiawan.net

Membuat paspor ….

June 16, 2008 · No Comments

Banyak teman yang menuliskan di blog mengenai pengalaman membuat paspor, meski mungkin semua sudah tahu, bagaimana perlunya kesabaran ekstra, “sabar menanti  … “

Hari Selasa minggu lalu, karena harus ke dokter dulu, jadi sampai di sana sudah siang. Alhasil cuma bisa beli formulir sebesar 15.000 rupiah

Hari Rabu datang kembali ke sana, masuk ke loket satu atau loket penerimaan formulir. Kebingungan mulai terjadi, saya tidak tahu harus sebelah mana mengantri. Antri sebelah kiri, ternyata yang dilayani sebelah kanan, karena yang melayani sebelah kiri pergi keluar untuk menemui “tamu” khususnya. Dengan sabar saya tunggu, akhirnya berkas saya diterima juga, kemudian diminta duduk.

Sambil menunggu, saya lihat orang berpakain seragam sambil membawa map seperti yang saya masukkan. Tiga puluh lebih baru kemudian dipanggil, setelah itu diberi kertas kuning setelah jadwal kembali hari Senin tanggal 16 Juni 2008.

Hari ini, Senin 16 Juni 2008, baru sampai di imigrasi jam 10 siang. Kemudian kembali saya bingung memilih antrian, akhirnya sampai juga di depan loket pelayanan. Setelah itu, disuruh meminta bayar ke loket photo.

Sampai di loket photo, saya serahkan kertas yang diberikan dari loket informasi serta uang 105.000 rupiah. Di dalam terlihat, petugas sibuk mengetik dari kertas-kertas yang dipegangnya, yang membuat saya bingung, di sana tidak ada antrian alias cuma saya yang berdiri di depan loket. Akhirnya dilayani juga, saya menerima kembalin 50.000 rupiah, dari yang harus dibayar sebesar 55.000 rupiah.

Iseng-iseng saya lihat kertas bukti pembayaran, dan disana tertulis seperti ini:

Nama : Budhi Setiawan

Pembayaran : Biasa

Permohonan : Non - VIP

Total bayar : Rp. 55.000,-

Kemudian saya kembali ke loket informasi, dan dapat nomor 144, petugas langsung bilang nanti diphoto dan wawancara setelah jam satu siang. Ooo .. ini karena Non-VIP kali ya …

Jam satu tepat saya sudah kembali ke Imigrasi, saya lihat di tempat photo tertulis nomor 090, oopss .. masih ada 54 orang lagi mengantri. Jam 13.30 baru berubah 091, 092 dan 093 … Jam 14.00 baru berubah lagi 094, 095 … Sesudah itu lama tidak ada perubahan nomor ..

Sebelah saya ada duduk seorang ibu-ibu, tiba-tiba bercerita bahwa di sini banyak permainan, karena itu perlu ikut permainan tersebut, saya biasa membantu ikut bermain … saya senyum saja, sambil bilang kebetulan saya tidak bekerja, jadi mo nunggu aja, nomor antrian saya 144, mungkin baru jam 15.30 dipanggil …

Jam 15.25, tiba-tiba saya lihat di display terjadi perubahan nomor yang sangat cepat .. 135, 135 … sampai 155, wah artinya saya boleh masuk ruangan photo. Begitu masuk ke dalam, saya lihat di meja, paling atas adalah nomor 142, dan dibawahnya nomor 144 …

Sebelum saya tiba di depan meja tersebut, tiba-tiba seorang Ibu dari belakang masuk dan langsung berdiri di depan meja, saya lihat nomornya 153 .. saya senyum dan persilahkan duluan agar berdiri di depan meja, dengan nomor saya pegang agak sedikit ke atas. Petugas yang memotret nampaknya melihat nomor saya, kemudian saya lihat ada laki-laki masih mudah, memegang nomor 142, saya bisikin mas nomornya pegang kemudian berdiri sebelah saya. Petugas memotret mungkin grogi juga, akhirnya dia manggil nomor 142 tersebut.

Saat nomor 142 sedang dipotret dan sidik jari, kembali masuk petugas berseragam dengan seseorang, lalu menyimpan mapnya di meja petugas pemotret menutup nomor 142 tersebut. Petugas pemotret agak marah, kemudian bilang, “cing atuh diantrikeun … “. Dia ambil map saya, kemudian menyuruh saya duduk, sambil bilang “antosan nya .. mo cari minum dulu ..”

Alhasil saya duduk di kursi buat dipotret tanpa tukang potret … he he he

Kisah selanjutnya, setelah tanda tangan pasport, kemudian dikasih tahu untuk datang kembali hari Rabu setelah jam 13.00 … eng ing eng … 

Categories: daily life
Tagged: ,

0 responses so far ↓

  • There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment